Tahun 2022 bukan sekadar angka di kalender bagi warga perbukitan Silangit, Desa Kaliwungu, Banjarnegara. Selama bertahun-tahun, tanah kering di perbatasan Donorojo itu membisu. Lahan tersebut pasrah, menunggu tangan-tangan berani yang mau mengubah pola pikir lama: bahwa bertani bukan sekadar menanam untuk hari esok, melainkan merawat masa depan yang bisa dipanen berkali-kali.
Semua perubahan ini bermula dari sebuah ruang diskusi sederhana pasca-pelantikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Kaliwungu. Riuh rendah suara ide mulai bersahutan ketika tokoh PRM bertemu dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan LazisMu Mandiraja. Awalnya, gagasan yang muncul adalah menanam jahe, aren, atau buah-buahan.
Namun, takdir punya rencana yang lebih besar. Sebuah kabar berembus dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang sedang mencari "rumah" bagi proyek penanaman kopi nasional di Jawa Tengah. Dari dua titik yang direncanakan, satu titik jatuh dengan tepat di dekap kehangatan perbukitan Silangit.
Gerimis bulan November 2022 menjadi saksi bisu ketika Ustadz Sunanto (Cak Nanto) hadir langsung di lereng Silangit. Hari itu, 12.000 bibit kopi pertama diserahkan. Ada harapan besar yang ikut terkubur bersama akar-akar muda tersebut ke dalam tanah. Namun, perjuangan tidak berhenti di sana; semangat itu justru menular bak api di musim kemarau.
Dedikasi tanpa henti ditunjukkan oleh PCM dan LazisMu Mandiraja yang terus mengawal, mencari, dan menyalurkan bibit demi bibit. Hasilnya? Terjadilah sebuah "Ledakan Hijau". Dari yang awalnya hanya 12.000 bibit, kini angka itu telah melonjak menyentuh 120.000 pohon yang tegak berdiri kokoh. Gerakan ini berhasil menghijaukan 221 hektar tanah kering dan 42 hektar persawahan Silangit.
"Kami tidak hanya menanam pohon; kami sedang menanam kedaulatan pangan di atas tanah kami sendiri."
Ditanam di ketinggian sekitar 350 MDPL, Silangit memiliki mikroklimat yang sangat unik. Di sinilah Robusta Silangit lahir dengan kepribadian yang jujur. Jika Anda menyesapnya, Anda akan menemukan cerita tentang tanah kering yang tangguh.
Ada jejak asam yang tipis—sebuah kejutan langka untuk varietas Robusta—namun segera disusul oleh rasa pahit yang tegas, tebal, dan mantap. Pahitnya tidak menusuk, melainkan menenangkan; layaknya hasil perjuangan para petani yang berani bertaruh pada waktu.
Kopi Silangit kini bukan sekadar komoditas pasar. Ia adalah simbol perlawanan terhadap rasa menyerah, sebuah bukti nyata bahwa di tangan yang tepat, tanah kering pun bisa melahirkan kemakmuran yang harum aromanya.
Satu cangkir, sejuta perjuangan. Inilah Kopi Silangit.